Jakarta Barat, 9 Oktober – SMK Negeri 72 Jakarta mengambil langkah progresif untuk menyelaraskan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dengan tuntutan era digital. Sebanyak 25 guru dan tenaga kependidikan sekolah tersebut mengikuti Pelatihan Intensif Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) selama satu hari penuh, bertempat di Aula sekolah pada hari Kamis, 9 Oktober 2025. Pelatihan Intensif Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) selama satu hari penuh, bertempat di Aula sekolah pada hari Kamis, 9 Oktober 2025.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi internal, bertujuan untuk membekali seluruh staf sekolah – baik guru mata pelajaran kejuruan maupun guru maple umum, serta tenaga administrasi – dengan pemahaman dasar mengenai teknologi kunci abad ke-21, yaitu pemrograman atu coding dan AI.

Sinergi Kurikulum dan Operasional Sekolah
Kepala SMK Negeri 72 Jakarta, Bapak Haryanto, dalam sambutan pembukaan menekankan pentingnya pengDalam era teknologi digital yang spesat perkembanganya saat ini, Dunia Pendidikan harus bisa adaptif dan mampu mengplikasikanya di setiap satuan Pendidikan termasuk sekolah kita.. Ada 4 program besar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang harus dijalankan oleh kita di tingkat satuan Pendidikan salah satunya Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Dalam struktur kurikulum 2025 ini, KKA sudah harus masuk sebagai mata pelajaran pilihan”. Ujarnya. Beliau menambahkan, “Pelatihan ini bukan hanya untuk guru Informatika, tapi juga guru kejuruan,dan guru umum bahkan staf administrasi, agar seluruh ekosistem sekolah dapat memanfaatkan teknologi ini untuk efisiensi dan inovasi.”
Materi yang disampaikan dalam sesi padat ini mencakup pengenalan konsep Berpikir Komputasional (Computational Thinking), praktik dasar pemrograman, serta pengaplikasian praktis aplikasi AI generatif untuk mendukung kegiatan belajar mengajar

Antusiasme Peserta dan Materi Praktis
Satria adi Putra selaku naras umber yang memandu pelatihan, menyatakan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi, meskipun sebagian besar belum memiliki latar belakang pemrograman.
“Kami fokus pada aplikasi praktis yang relevan. Misalnya, bagaimana guru dapat menggunakan AI untuk membuat perangkat ajar yang terpersonalisasi lebih cepat, atau bagaimana staf administrasi dapat mengotomasi tugas repetitif dengan skrip sederhana,” jelas Satria.
Salah satu peserta, Khabul Budiana, Guru Kejuruan, mengaku mendapatkan pandangan baru tentang teknologi. “Tadinya saya pikir coding itu rumit dan hanya untuk jurusan IT. Ternyata konsepnya bisa membantu saya berpikir lebih logis dan sistematis, bahkan untuk menyusun materi ajar yang lebih terstruktur,” katanya.
Mencetak Generasi Unggul Berbasis Teknologi
Di akhir kegiatan, para peserta diberikan tantangan singkat untuk membuat sebuah proyek sederhana menggunakan alat AI seperti chatGpt, gemini, deepseek dan co pilot..Hasilnya, para guru bisa membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan konten konten pembelajaran yang inovatif. Di samping itu juga para guru bisa membuat animasi gambar bergerak dengan memanfaatkan Bahasa pemograman sederhana yang sudah disediakan oleh platform berbasis web site seperti scratch dan blockly games.
